Guru MTsN 1 Sanggau Ukir Rekor MURI Lewat Antologi Puisi Etnik Nusantara

Guru MTsN 1 Sanggau Ukir Rekor MURI Lewat Antologi Puisi Etnik Nusantara

You are currently viewing Guru MTsN 1 Sanggau Ukir Rekor MURI Lewat Antologi Puisi Etnik Nusantara

Sanggau – Dunia sastra Indonesia kembali mencatat tonggak sejarah baru. Perkumpulan Rumah Seni Asnur (PERRUAS) bersama ratusan penulis dari lima negara, antara lain Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand berhasil menorehkan prestasi luar biasa dengan mencatatkan diri dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) melalui karya monumental bertajuk buku Antologi Puisi Etnik Nusantara dengan penulis terbanyak. Prestasi ini tidak hanya menjadi kebanggaan dunia sastra, tetapi juga menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan Barat. Salah satu kontributor dalam antologi berskala internasional tersebut adalah Erni Buharsa, guru MTsN 1 Sanggau, yang berhasil membawa nama daerahnya ke panggung sastra Asia Tenggara. Buku tersebut merupakan hasil kolaborasi sastra lintas negara yang melibatkan ratusan penulis dengan latar belakang budaya yang beragam. Proses penulisan dilakukan secara intensif pada Agustus 2025, dengan proses kurasi yang ketat oleh tim editor PERRUAS. Buku ini kemudian resmi diterbitkan di Depok pada September 2025.

Antologi ini memuat 1.417 puisi, menjadikannya salah satu antologi puisi kolaboratif terbesar yang pernah terbit di kawasan Asia Tenggara. Setiap puisi menjadi representasi budaya lokal penulisnya, menggambarkan tradisi, nilai-nilai kehidupan, kearifan lokal, serta kekayaan bahasa ibu dari masing-masing daerah dan negara. Melalui karya-karya tersebut, pembaca diajak melakukan perjalanan budaya yang menyusuri keragaman etnik Nusantara dan dunia Melayu serumpun. Tema-tema yang diangkat meliputi kehidupan masyarakat adat, filosofi alam, relasi manusia dan lingkungan, hingga refleksi spiritual yang berakar dari tradisi lokal. Keterlibatan Erni Buharsa tidak hanya menjadi kebanggaan personal, tetapi juga menjadi simbol peran strategis guru-guru daerah dalam menggerakkan budaya literasi. Di tengah kesibukannya mengajar di MTsN 1 Sanggau, ia tetap konsisten menulis dan mengembangkan diri melalui karya sastra. Dalam keterangannya, Erni Buharsa menyampaikan bahwa pengalaman terlibat dalam proyek kolaboratif ini menjadi pengalaman yang sangat berharga baginya. Ia berharap karya tersebut dapat menjadi jembatan bagi generasi muda untuk lebih mencintai bahasa daerah, tradisi lokal, dan sastra sebagai media ekspresi budaya.

“Membaca dan menulis dalam buku ini seperti melakukan perjalanan panjang menyusuri identitas budaya. Kita bukan hanya mengenal ragam etnik, tetapi juga memperkaya wawasan tentang bahasa ibu dan nilai-nilai leluhur yang mulai jarang disentuh generasi muda,” ungkapnya. Kepala MTsN 1 Sanggau, Johansah, memberikan apresiasi tinggi atas capaian gurunya tersebut. Ia menyebut bahwa prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa guru madrasah mampu berkontribusi di level nasional bahkan internasional. Prestasi ini juga sejalan dengan semangat madrasah dalam menumbuhkan budaya literasi, kreativitas, dan kecintaan terhadap kearifan lokal. “Kami sangat bangga atas capaian Bu Erni. Keterlibatan beliau dalam antologi yang diakui MURI menunjukkan bahwa guru MTsN 1 Sanggau bukan hanya mendidik di ruang kelas, tetapi juga menjadi pelaku aktif dalam pelestarian budaya dan sastra. Ini menjadi inspirasi besar bagi seluruh guru dan peserta didik,” tegasnya.

Momen bersejarah juga terjadi pada Rabu (10/12/2025) ketika Erni Buharsa secara simbolis menyerahkan buku Antologi Puisi Etnik Nusantara kepada Kepala Perpustakaan MTsN 1 Sanggau, Ibnu Adji Hidayat. Penyerahan buku tersebut disambut antusias oleh pihak perpustakaan, karena dinilai sangat penting untuk memperkaya bahan bacaan bermutu bagi peserta didik “Buku ini sangat berharga bagi kami. Melalui antologi ini, siswa dapat belajar langsung tentang keberagaman etnik, kekayaan bahasa ibu, serta pentingnya menjaga identitas budaya. Kami berharap buku ini mampu memantik semangat siswa untuk menulis, membaca, dan mencintai sastra,” tutur Ibnu. Sebagai penggagas, PERRUAS menegaskan bahwa program ini tidak hanya bertujuan memecahkan rekor, tetapi juga membangun jejaring persahabatan budaya antarpenulis lintas negara. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat posisi sastra Melayu-Nusantara di panggung internasional. Antologi ini diproyeksikan menjadi dokumen budaya yang merekam kekayaan tradisi etnik bangsa-bangsa serumpun, sekaligus menjadi referensi penting bagi dunia pendidikan, penelitian, dan pengembangan sastra. Dengan terbitnya Antologi Puisi Etnik Nusantara dan pencatatan rekor MURI, karya ini menjadi bukti bahwa sastra tidak hanya menjadi media ekspresi estetika, tetapi juga menjadi jembatan peradaban yang menyatukan perbedaan. Prestasi yang diraih Erni Buharsa menjadi simbol bahwa dari daerah pun lahir karya-karya besar yang mampu menembus panggung internasional. MTsN 1 Sanggau pun semakin menegaskan eksistensinya sebagai madrasah yang tidak hanya unggul dalam pendidikan, tetapi juga dalam pelestarian budaya dan literasi. (Humas Tsanesa)

Leave a Reply